Administrasi Publik Boyong Tiga Piala

Yogyakarta

Perwakilan Prodi Administrasi Publik (AP) Fisipol UWM berjaya dalam Mataram Futsal Rotation Vol.2. Dalam kompetisi yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum UWM ini, Prodi AP berhasil memborong tiga piala.

Prodi AP menurunkan dua tim dalam turnamen yang berlangsung di Lapangan Futsal Dolano, kawasan Patangpuluhan ini. Dua tim itu adalah Kawa Kawa FC dan Squad AP FC. Keluar sebagai juara dalam turnamen ini adalah Kawa Kawa FC. Dalam final, Kawa Kawa FC berhasil mengalahkan Papeda FC (Fakultas Hukum). Sementara itu, Squad AP FC berhasil membawa pulang piala setelah mengkandaskan The Prabu FC dalam perebutan juara tiga. Kemenangan perwakilan Prodi AP makin lengkap dengan piala top skor yang berhasil diraih Ilyas (Squad AP FC). Dalam turnamen itu, Ilyas menjadi pemain paling subur dalam mengoleksi gol.

Kapten Kawa Kawa FC, Adinul Yakin mengaku bangga dengan prestasi yang berhasil diraih. Mahasiswa angkatan 23 ini juga mengapresiasi panitia yang telah menyelenggarakan turnamen tersebut. “Turnamen ini mempererat sekaligus mengembangkan bakat mahasiswa UWM. Terimakasih pada Tim Kawa Kawa Administrasi Publik dan juga Fakultas Hukum yang telah menyelenggarakan kegiatan ini,” tandasnya.

Sementara itu, Kapten Squad AP FC, Alif mengatakan turnamen yang diadakan Fakultas Hukum ini berhasil menyatukan prodi-prodi yang ada di UWM. “Bangga berhasil meraih juara ketiga. Semoga turnamen tahun depan yang diadakan Fakultas Hukum lebih meriah lagi,” ucapnya.

Di tempat terpisah, Kaprodi Administrasi Publik, SL. Harjanta mengapresiasi atas pencapaian yang berhasil diraih para mahasiswa. “Prodi mengapresiasi prestasi yang telah diraih mahasiswa dalam lomba futsal. Saya mendorong agar para mahasiswa terus mengembangkan bakatnya. Apresiasi juga untuk BEM Fakultas Hukum dan panitia penyelenggara,” pungkasnya. (haj)

Cegah Kekerasan Seksual, Mahasiswa Administrasi Publik Masuk Pansel PPKS

Yogyakarta

Kekerasan seksual marak terjadi di kampus. Berdasarkan Survei Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2023, terdapat 65 kasus kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Berbagai upaya, terutama kalangan perguruan tinggi berusaha memeranginya dengan pencegahan kekerasan seksual, penanganan kekerasan seksual, hingga membangun lingkungan kampus yang aman dan nyaman. Kondisi inilah yang mendorong Ananda Fikri Sulistyo, mahasiswa  Prodi  Administrasi Publik tertarik untuk menjadi bagian Panitia Seleksi  (Pansel) Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).

Universitas, kata Nanda, mempunyai tanggungjawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi seluruh civitas akademik termasuk mahasiswa, dosen, dan karyawan. Dengan dibentuknya Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual maka akan berperan penting untuk mencegah kekerasan seksual, penanganan kekerasan seksual, hingga membangun lingkungan kampus yang aman dan nyaman.

Minimnya keterlibatan laki-laki dalam upaya pencegahan kekerasan seksual berbasis gender adalah salah satu faktor yang membutuhkan perhatian lebih. Hingga kini sebagian besar masih berfokus pada pemberdayaan perempuan dan belum cukup menyasar pada akar persoalan yakni norma maupun relasi gender laki-laki dan perempuan yang setara. Dengan melibatkan laki-laki, nantinya turut mengajak kaum laki-laki untuk lebih peduli atas isu kekerasan seksual.

“Banyaknya penelitian menunjukkan bahwa korban kekerasan seksual didominasi perempuan, sedang pelakunya mayoritas laki-laki,” tambahnya.

Ananda yang saat ini duduk di semester 6 Program Studi Administrasi Publik, senang terlibat dalam kepanitiaan tersebut karena dapat banyak belajar tentang isu kekerasan seksual dan cara menanggulanginya. Dengan kegiatan positif ini, Nanda ingin agar semakin banyak civitas akademika, khususnya mahasiswa untuk bersama-sama memerangi kekerasan seksual di kampus.(okt)

Peduli Lingkungan, Prodi Administrasi Publik Gelar Visiting Lecturer

Yogyakarta

Persoalan sampah menjadi pintu masuk, mencapai target pembangunan berkelanjutan. Sampah merupakan isu multisektor yang berdampak pada banyak aspek & ekonomi. Pengelolaan sampah bersentuhan dengan isu kesehatan, perubahan iklim, pengurangan kemiskinan, keamanan pangan, sumber daya, produksi dan konsumsi berkelanjutan. Demikian disampaikan Dr. Oktiva Anggraini, SIP., S.Pd., M.Si dosen prodi Administrasi Publik FISIPOL Universitas Widya Mataram dalam webinar  Visiting Lecturer bertajuk “ Smart people, Waste Management and Smart City: Praktik baik pengelolaan sampah”.

Salah kelola sampah akan berefek pada masalah kesehatan masyarakat, pencemaran lingkungan, tanah, air, dan udara dan kerusakan ekosistem, dan mengganggu kehidupan satwa liar.

”Kompleksitas sampah perkotaan perlu perhatian serius.  Sebab bahaya muncul dari berbagai jenis limbah, termasuk sampah rumah tangga, komersial, dan industri  sehingga memerlukan pendekatan yang holistik dalam pengelolaannya. Pertumbuhan populasi perkotaan yang cepat, faktor utama yang berkontribusi pada peningkatan masalah sampah perkotaan,” jelas Oktiva.

 Pengelolaan sampah yang berkelanjutan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab atas konsumsi dan produksi yang telah dilakukan (SDGs). Sampah menjadi problem di semua kota besar di dunia, termasuk Yogyakarta yang dipetakan menjadi Smart City. Volume sampah kota Yogyakarta yang dibuang ke TPA Piyungan mencapai 260 ton per hari, sekitar 40% di antaranya adalah sampah anorganik.Kota Yogyakarta menempati ranking 2 di antara kabupaten/kota lainnya di DI. Yogyakarta. Berdasarkan jumlah tersebut, sebanyak 99,34% sampah telah berhasil dikelola. 1,87 ton (0,57%) sampah yang belum tertangani.

 Visiting Lecturer yang dibuka oleh Ketua Prodi Administrasi Publik, SL.Harjanta. Dalam sambutannya, Harjanta  mengatakan bahwa kesadaran masyarakat Yogya dibanding kota lain, dalam pengelolaan sampah cukup baik. Sungai-sungai yang mengalir relatif masih jernih dan belum tercemar. Kesadaran masyarakat ini menjadi potensi dan kekuatan dalam mengelola persoalan lingkungan. Webinar tersebut diharapkan dapat memberi manfaat dalam mengurai persoalan sampah.

Pembicara kedua, Wahyu Setya Ratri, SP, M.P Penggerak/aktifis Peduli sampah,  Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta tampil mengupas peluang sampah menjadi cuan. Wahyu mengajak peserta webinar  melihat peluang bahwa pengelolaan sampah yang benar akan membantu pemerintah dalam proses Circular Economy. Program ini dititikberatkan pada cara mengurangi limbah dan memaksimalkan sumber daya yang sudah ada dan kehadiran digitalisasi dalam pengelolaan sampah, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah. Baik Oktiva maupun Wahyu sepakat bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku bisnis, dan komunitas masyarakat amat dibutuhkan dalam menyelesaikan persoalan sampah yang semakin meresahkan. Peraturan atau alas hukum pengelolaan sampah, sekeras apapun akan kurang bermakna bila masih ada masyarakat yang kurang peduli terhadap kebersihan. Program 4 R (reduce,reuse, recycle and replace)  tidak hanya mampu mengurangi volume sampah dan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Saat ini tengah dikembangkan sentra maggot di sejumlah daerah, pengolahan sampah organik dengan berbagai metode dan itu menghasilkan uang, mendukung ketahanan pangan. Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan pengusaha, program ini dapat terus berkembang dan menjadi model pengelolaan sampah yang dapat diadopsi oleh daerah lain di Indonesia (OA). (okt)

Salsya Mahasiswi Prodi Administrasi Publik dengan Segudang Prestasi

Yogyakarta

Bagi warga sivitas akademik Universitas Widya Mataram, sosok Marsyanda tidak asing lagi. Mahasiswi yang akrab disapa Salsya ini kerap tampil dalam perhelatan agung, wisuda, gebyar budaya maupun acara formal lainnya. Salsya tampil luwes dengan tarian Jawa klasik. Satu jenis tari tradisional yang belum tentu generasi Z mau belajar.

Berprestasi di dalam dan luar kampus. Ya, sebagai mahasiswi semester 4 Prodi Administrasi Publik, Salsya cukup menonjol. Dalam aktivitas di kampus, ia sering aktif menulis dan mengikuti lomba karya ilmiah. Di luar kampus Salsya juga punya aktivitas yang padat.

Salsya mengaku  suka menari sejak usia 3 tahun, sebelum masuk taman kanak-kanak. Orang tuanya, khususnya sang ibu sudah melihat bakat terpendam dari si jelita ini. Diajaknya Salsya kecil ke Sanggar Pradnya Widya yang ada di lingkungan FBS UNY. Beberapa gerakan basik tari ia pelajari hingga duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 3. Setelahnya, ia mempelajari 6 materi tari kreasi dengan sempurna. Lulus Sekolah Dasar, hingga pada saat masuk pertama Madrasah Tsanawiyah lembaran menari dimulai dengan seringnya Salsya diminta pentas. Tak mau tanggung-tanggung, keseriusan belajar menari diteruskan di Sanggar  Pradnya Widya dan memilih kelas Klasik gaya Yogyakarta. Kenapa?  Perjalanan para seniman tari hebat dan kondang,  rata-rata diawali dengan menekuni tari klasik. Hal tersebut menjadi motivasinya untuk belajar tari klasik gaya Yogyakarta. Apalagi banyak bule-bule juga tertarik belajar tari tradisioal, masak kita sendiri yang notabene  warga Yogya malas belajar.

            Di saat kelas XI Salsya mendapatkan beasiswa dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta sebagai siswa berbakat. Sebagian uang beasiswa digunakannya untuk kursus kecantikan karena seorang penari dituntut untuk bisa berhias sendiri. Sebagian lagi dari beasiswanya untuk menekuni tari klasik di sanggar Yayasan Siswa Among Beksa.

            Kesempatan tidak akan datang dua kali, kalimat tersebut yang menjadi motto hidupnya. Tidak sia-sia, setiap ada kesempatan bagus, direngkuhnya termasuk ketika ada tawaran beasiswa KIP-K. Prodi Administrasi Publik FISIPOL Universitas Widya Mataram menjadi pilihannya. Ada kebanggaan tersendiri di kampus yang didirikan oleh oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX penguasa Keraton Yogyakarta, yang pada masanya bergiat dalam melestarikan kebudayaan Jawa.

 “Ketika kuliah, bakatku tidak berhenti. Salut banget, kampus mengapresiasi mahasiswa dengan talenta istimewa”, tambah Salsya menutup obrolan dengannya.

Prestasi yang didapatkan dalam satu tahun terakhir yaitu sebagai Duta Genre Kelurahan, instruktur tari “Kampung Menari” Kota Yogyakarta, guru eksul tari di SD Kotagede 4 Yogyakarta selama 4 bulan mulai November 2023 – Februari 2024. (okt)

Amel: Magang Asah Keterampilan Profesional hingga Kerjasama

Yogyakarta

Mampu mengembangkan keterampilan profesional, komunikasi hingga kerjasama dalam tim. Itulah yang dirasakan salah satu peserta Program Magang Prodi Administrasi Publik, Pramesti Amaliyah. Mahasiswi yang akrab disapa Amel ini baru saja menyelesaikan magang di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kota Yogyakarta.

Program magang menjadi andalan prodi Administrasi Publik dalam mendekatkan mahasiswa dengan tantangan dunia kerja di era 4.0. Magang adalah program pembelajaran  yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bekerja secara langsung di organisasi/instansi tertentu selama satu bulan di berbagai instansi yang menjadi mitra kerja prodi Administrasi Publik. Melalui magang, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan profesional, komunikasi, dan kerjasama, serta mendapatkan pengalaman berharga yang dapat meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi.

Selama magang, Amel ditempatkan di Bidang Unit Pelayanan Teknis Jaminan Pendidikan Daerah (UPT-JPD) di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (DIKPORA) Kota Yogyakarta. Tugas pokoknya adalah menginput dan mengarsip data hard file dan soft file terkait kegiatan yang dilakukan oleh UPT-JPD. Pelaksanaan rapat-rapat kedinasan penting, juga diikutinya, di antaranya Rapat Perencanaan Peraturan Wali Kota Yogyakarta tentang Pendidikan Daerah Bagi Peserta Didik Anak Berkebutuhan Khusus.

“Ada juga program pendampingan anak-anak TK yang berkunjung ke Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali) dan Museum Dirgantara Mandala Adisucipto. Saya sangat senang bisa berinteraksi dengan anak-anak dan melihat antusiasme mereka dalam belajar sejarah,” terang Amel.

Selain itu, Amel  juga mendapatkan banyak pengalaman berharga dari staf bidang maupun peserta magang lain yang berasal dari kampus berbeda, saling berbagi ilmu dan  pengalaman. ”Bagi saya magang adalah salah satu momen terindah dalam hidup saya, belajar banyak hal, baik pekerjaan dan berinteraksi dengan tim kerja. Bertemu sementara, berkesan selamanya”, ungkapnya menutup perbincangan.

Program Magang  Tingkatkan Mutu Lulusan Prodi Administrasi Publik

Yogyakarta

Pengalaman praktis sangat dibutuhkan saat mahasiswa lulus dan memasuki dunia kerja. Maka itu, Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram membekali mahasiswa melalui program magang.

Program magang di Prodi Administrasi Publik sendiri diselenggarakan mulai tanggal 1  hingga 29 Februari 2024. Lokasi magang sendiri tersebar di sejumlah instansi publik di wilayah DIY.

Melalui praktik kerja, mahasiswa diarahkan  agar mempunyai nilai dan wawasan keilmuan yang berguna, berjiwa inovatif, kritis, adaptif dan komunikatif  sesuai dengan karakter dan budaya di era global.

Salah satu dosen Pendamping Program Magang, Dr. Oktiva Anggraini S.I.P., S.Pd. M.Si,  menegaskan, pentingnya program magang dalam menunjang mutu lulusan.

”Melalui magang, mahasiswa berkesempatan  menambah, mengasah, mengembangkan ketrampilan yang baru ditemui maupun yang sudah dipelajari  di kampus sebelumnya. Magang juga mendorong mahasiswa agar memiliki kompetensi yang memadai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan bidang keahliannya,” ucap Dr. Oktiva.

Saat penarikan peserta magang di  Dindikpora Kota Yogyakarta dan Kantor Regional BKN 1 Yogyakarta, pihaknya mengucapkan terima kasih karena kedua instansi tersebut yang telah bersedia membekali para mahasiswa dengan ilmu, ketrampilan serta soft skill yang bermanfaat. Selain Kanreg BKN  1 Yogyakarta dan  Dindikpora Kota Yogyakarta, mahasiswa magang Prodi Administrasi Publik Fisipol UWM antara lain diterjunkan ke Kantor Kepatihan  Pemda DIY, Dindikpora Kota Yogyakarta, Dindikpora Kabupaten Bantul, Protokoler Pemda Bantul, Setwan DPRD Sleman, Disperindag Sleman, Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya Laras DIY, Kapanewon Minggir dan Kalurahan Sendangsari, Minggir, Sleman.

Selain Dr. Oktiva Anggraini S.I.P., S.Pd. M.Si, bertindak sebagai Dosen Pemimbing Magang adalah Suwarjo, S.IP, M.Si, Dra. Syakdiah, M.Si, Retno Kusumawiranti, M.PA dan SL. Harjanta, S.IP, M.Si.

–Obituari–

Firasat Testimoni Singkat Rahmad

“Tolong kirim foto juga ya Cak.” Demikian salah satu penggalan dialog chat WA yang terjadi bulan Juni 2023. Saat itu, saya menghubunginya untuk kepentingan testimoni promo prodi. Tak berapa lama, sebuah foto dikirimkan juga melalui WA. Tak terlalu pangling dengan foto yang barusan saya terima. Tak jauh beda dengan sosok yang sempat saya jumpai terakhir tahun 2021 lalu. Saat itu memang kita janjian ketemu di salah satu Café di Jalan Palagan, Ngaglik, Sleman. Semenjak lulus  tahun 2019, alumni Prodi AP Universitas Widya Mataram angkatan 2014 ini lebih banyak beraktivitas di Jakarta.

Sekali lagi tidak ada yang ganjil dengan foto yang dikirimkan. Di foto itu, dia mengenakan kemaja pendek berkelir putih. Peci hitam khas warga NU menghiasi kepalanya. Namun dalam chat itu saya sempat ‘protes’. Yang jadi ketidakpuasan saya karena dia memberikan testimoni hanya tiga kata. Ini testimoni yang sangat singkat. Ini sangat berbeda dengan alumni lain yang juga menyumbangkan testimoni hingga tiga paragraf panjangnya.

“Ok, nanti sedikit saya kembangkan, ya,” ucap saya merespon testimoninya yang super singkat itu.

Oh, mungkin testimoni singkat itu bisa jadi sebuah tanda atau firasat. Ya, setengah tidak percaya, saya menerima kabar duka itu dari Renando  Adam (AP 2015). Dia mengabarkan jika Rahmad meninggal dunia karena sakit pada 20 November 2023. Kabar duka ini juga terkonfirmasi dari Fathurahman alumni AP yang sama-sama berasal dari Madura. Almarhum selama kuliah dikenal sebagai aktivis mahasiswa. Sebelum lulus 2019, Rahmad pernah menjabat Presiden BEM UWM. Pengalaman itu lah yang kemudian membawanya berkarir sebagai staf ahli anggota DPR di Senayan.

Selamat jalan Rahmad……. (haj)

Alumni dan Mahasiswa AP Siap Bersaing di Pemilu 2024

Yogyakarta

KPU merilis Daftar Caleg Sementara (DCS) Pemilu 2024 untuk meminta tanggapan masyarakat. Jika tidak ada persoalan, nama-nama yang masuk dalam DCS selanjutnya ditetapkan sebagai Daftar Caleg Tetap (DCT). Daftar DCS yang dirilis KPU terdapat nama-nama yang merupakan alumni maupun mahasiswa Prodi Administrasi Publik (AP) Universitas Widya Mataram (UWM). Mereka merebutkan kursi DPR dan DPRD Provinsi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Pertama adalah Dahlan Jamaludin yang merupakan alumni Prodi AP lulusan tahun 2005. Pria kelahiran Meukho Kuthang, 26 Agustus 1980 ini sebelumnya merupakan ketua DPR Aceh Periode 2019-2023. Dahlan yang sebelumnya politisi  Partai Aceh, kini berganti baju PDI-P dan maju di DPR pusat. Dahlan maju di Dapil Aceh I.

Alumni kedua yang akan berlaga di Pemilu 2024 adalah Indaus Gwijangge. Indaus yang baru lulus tahun 2023 ini ikut memperebutkan kursi DPRD Provinsi Papua Pegunungan. Pria yang tinggal di Jayawijaya ini maju dari Partai UMMAT dan mendapatkan nomer urut 2.

”Jika terpilih nanti saya akan meningkatkan kesejahteran dan pembangunan masyarakat. Baik di bidang ekonomi maupun infrastruktur, khususnya bagi masyarakat Papua Pegunungan,” ucap Indaus saat dihubungi Sabtu 26/8/2023.

Tak hanya alumni, dalam  DCS Pemilu 2024 ini  terdapat nama mahasiswa aktif Prodi Administrasi Publik. Mahasiswa tersebut adalah Ekky Vinalia Christina. Ekky saat ini tercacat sebagai mahasiswa kelas sore angkatan 2021. Berdasarkan data yang diakses di https://infopemilu.kpu.go.id/Pemilu/Dcs_dprprov, Ekky maju di DPRD Provinsi DIY dari Dapil Bantul I. Politisi Gerindra ini mendapatkan nomor urut 2.

Menanggapi sejumlah alumni dan mahasiswa masuk dalam DCS Pemilu 2024, Kaprodi Administrasi Publik, SL. Harjanta mengatakan, jika hal tersebut sudah sesuai dengan profil lulusan prodi yang ada di kurikulum.

”Selain menjadi administrator (ASN), peneliti, komisioner lembaga negara hingga konsultan, lulusan Prodi Administrasi Publik juga disiapkan sebagai politisi,” pungkasnya. (haj)

Kena Random Checking, Jepang Trip Selanjutnya (2-Habis)

Yogyakarta

Traveling ke luar negeri sendirian tidak selalu menyenangkan. Ada risiko-risiko yang harus ditanggung. Ini juga yang dirasakan staf Tendik Rektorat Universitas Widya Mataram, Sulhan Qumarudin. Dia mengaku punya pengalaman tidak mengenakkan saat melancong ke luar negeri belum lama ini. Pengalaman pahit itu adalah terkena random security checking.

Ya, random checking memang menjadi salah satu momok menakutkan bagi kalangan traveler. Sebab jika apes, risiko terburuknya hingga deportasi. Pengalaman yang membuat jantung Sulhan dag dig dug ini saat dia tiba di Hongkong, Mei 2023 lalu. Petugas imigrasi memeriksa secara khusus sesaat tiba di bandara.

”Salah satu pengalaman tidak mengenakan ya kena random checking. Sepertinya petugas curiga karena saya hanya berpergian sendiri,” ucap Sulhan.

Beruntung, Sulhan lolos dan tidak sampai dipulangkan ke Indonesia. Yang menyelamatkan dalam pemeriksaan itu karena dia menyimpan uang cash sebesar 2.000 Hong Kong Dollar. ”Saya nyimpan uang cash yang cukup. Sehingga petugas percaya,” tambah Sulhan saat berbincang di ruang kerja Kaprodi Administrasi Publik, belum lama ini.

Meski berangkat sendiri, di sejumlah negara tujuan dia bertemu dengan banyak traveler untuk bersama-sama menikmati tempat wisata. ”Pengalaman yang menyenangkan ya bisa bareng-bareng dengan turis dari negara lain. Saat itu saya gabung dengan turis dari Maroko,” bebernya lagi.

Dalam perjalan wisata ke luar negeri pada Mei 2023 lalu, dia mengunjungi empat negara.  Di Singapura, dia berkunjung ke Merlion Park, Marina Bay Sands, Masjid Sultan, Orchard Road dan Jewel Changi Airport. Sedangkan tujuan wisata ke Hongkong dia menikmati Victoria Bay, Avenue of Stars Hongkong, Victoria Peak, Kowloon Walled City Park, Ladies Market dan Nathan Road. Largo de Senado, Ruins of St. Paul, Venetian Macao Casino, Parisian Macao, The Londoner Macao adalah destinasi yang ada di Macau. Sementara saat di Malaysia dia berkunjung ke  Petronas Twin Towers (KLCC), Bukit Bintang, Batu Caves, Dataran Merdeka Kuala Lumpur dan Kasturi Walk.

Lantas, berapa biaya yang dikeluarkan saat berkeliling ke empat negara tersebut? Sulhan mengaku menyiapkan budget sekitar Rp8 juta yang bersumber dari tabungannya.  ”Trip selanjutnya insyaAllah pengen ke Jepang,” tutupnya. (haj)

Sulhan, Tendik Traveler yang Sudah Keliling Empat Negara (1)

Yogyakarta

Rasa ingin tahu mendorong pria lajang ini ingin terus berkeliling mengunjungi berbagai negara. Ya, demikian kesan yang ditangkap saat berbincang dengan Sulhan Qumarudin. Sulhan yang merupakan Tendik/Staf Rektorat Universitas Widya Mataram (UWM) ini mengaku sudah berpergian ke empat negara.

Aktivitas traveling ini dilakukan Sulhan sejak 2019. Hal ini diceritakan saat dia mampir di ruang kerja Kaprodi Administrasi Publik (AP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), kemarin. Singapura adalah negara tujuan pertamanya kala itu. Menjelajahi negara kota itu membuat kesan tersendiri  baginya. Maka sejak itu, dia bertekat untuk kembali mengunjungi sejumlah negara Asia lainnya.

”2019 pertama kali ke Luar Negeri. Singapura jadi tujuan saya untuk liburan. Saat itu menginap satu malam di sana lalu kemudian kembali ke Yogyakarta,” ucap Sulhan sembari mengaku dalam perjalan ke luar negeri tersebut dia merogoh kocek sebesar Rp3,5 juta.

Namun, hasrat pria berbadan kurus ini untuk melanjutkan liburan ke sejumlah negara lain harus ditahan. Seperti diketahui pandemi covid-19 melanda sejumlah negara. Ini pula yang membuat Sulhan harus menunda keinginannya untuk kembali traveling ke luar negeri.

Kesempatan untuk melanjutkan liburan ke luar negeri akhirnya datang. Di bulan Mei 2023, pemuda asal Kasihan, Bantul ini kembali mencatatkan perjalanan ke sejumlah negara di Asia. Pada kesempatan kedua ini, ada empat negara yang dikunjunginya. Negara tersebut adalah Singapura, Malaysia, Hongkong dan Macau. Dua negara terakhir merupakan daerah administrasi khusus yang memiliki pemerintahan, bendera dan mata uang sendiri yang berbeda dengan China.

Lantas tempat-tempat wisata apa saja yang dia kunjungi? Dan bagaimana kisah mengesankan hingga menegangkan selama dia traveling ke luar negeri? Cerita selanjutnya bisa disimak ditulisan berikutnya (bersambung). (haj)