Helat Musjur, Himap Angkat Isu Soliditas dan Integritas

Yogyakarta-

Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik (HIMAP) mengadakan acara Musyawarah Jurusan (Musjur), Kamis, 10/08/2023. Acara yang berlangsung di Ruang Nehru, Kampus 1 UWM ini mengangkat tema  “Mempertahankan Kepengurusan yang Solid dan Berintegritas”.

Acara yang diikuti 23 orang calon pengurus baru dengan sistem offline dan online ini juga dihadiri, Dekan Fisipol, Dr Martadani Noor,  SL Harjanta Selaku Kaprodi Administrasi Publik dan  Ketua HIMAP Periode 2022-2023 Bela Novia Astuti. Dalam kesempatan itu, Martadani menyampaikan pesan tentang pentingnya mahasiswa untuk mempertahankan kepengurusan yang solid dan berintegritas dengan cara mematuhi aturan-aturan yang berlaku di universitas.

”Integritas menjadi hal penting yang senantiasi harus dipupuk dan dimiliki oleh seluruh mahasiswa. Sebab dalam praktiknya saat ini, elit yang mengelola negera, sebagian ada yang mengalami krisis integritas,” ucap Martadani.

Sementara itu, Nugroho Dwisatria Semesta selaku Ketua Pelaksana berharap Musjur bisa menciptakan regerasi di tubuh HIMAP yang lebih baik. ”Saya harapkan HIMAP ke depan bisa lebih  dapat menjembatani seluruh aktivitas dan kreativitas mahasiswa Prodi Administrasi Publik melalui kegiatan yang positif,” jelasnya.

Dalam Musjur ini  membahas GBHO GBHK HIMAP dan juga memilih ketua yang baru. Ananda Fikri Sulistyo berhasil terpilih untuk menjadi Ketua HIMAP periode selanjutnya. (fer)

Angkat Pemikiran Ki Hajar Dewantara, Ananda Dkk Lolos PKM AI

Prestasi membanggakan kembali diraih Ananda Fikri Sulistyo. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Administrasi Publik (AP) angkatan 2021 ini, bersama sejumlah mahasiswa lainnya berhasil lolos dalam kompetisi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2023. Ananda Dkk lolos pada skema Artikel Ilmiah (AI).

Dalam kompetisi ini, tim pengusul mengangkat judul Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara Pembentuk Dasar Karkater Peserta Didik Menuju Standar Profesionalisme Global. Ananda memberikan penjelasan mengapai tim pengusul mengangkat tema tersebut. Menurut mahasiswa semester 4 ini beralasan, pemikiran Ki Hajar Dewantara yang populer selama ini yang Tut Wuri Handayani. Padahal menurutnya, pemikiran atau nilai lain yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha dan Ing Madya Mangun Karsa, menjadi pemikiran penting.

“AI yang kami ajukan berbasis riset. Setelah menentukan tema kemudian mengambil data ke lingkungan pendidikan di bawah Yayasan Ki Hajar Dewantara. Untuk menggali data kami datang ke SD-SMA dan SMK di bawah Yayasan Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta,” ucapnya.

Selain tema, Ananda membagikan tips sukses lolos PKM AI ini. Menurutnya, kesesuaian format yang sudah ditentukan menjadi kunci keberhasilan. “Jadi tim beberapa kali melakukan revisi terkait dengan format yang sudah ditentukan,” tambahnya.

Kesuksesan dalam PKM ini menurut Ananda tidak lepas dari peran dosen pembimbing. Dalam pengajuan skema AI ini bertindak sebagai dosen pembimbing, Dr. Oktiva Anggraini. Selain Ananda, tim dalam PKM ini adalah Nugroho Dwisatria Semesta (Prodi AP), Diajeng Sekar Baiti (Prodi AP), Marsyanda Salsya Irawan (Prodi AP) dan Nurul Uyun (Prodi Ilkom). (haj)

Prodi Administrasi Publik Rilis Tresna Widya

Memasuki tahun ajaran baru, Tresna Widya bisa menjadi referensi bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Yogyakarta. Dalam karya produksi Prodi Administrasi Publik (AP) Universitas Widya Mataram (UWM) ini menceritakan, bagaimana kehidupan dua orang mahasiswa (Widya-Maldika) yang sama-sama memilih jurusan yang sama di sebuah kampus. Keduanya menjadi mahasiswa yang menonjol. Namun, Widya-Maldika sempat diterpa konflik hingga salah satu dari mereka lulus duluan. Meski begitu, mereka tetap menjaga persahabat dan mendukung satu sama lain.

Demikian diceritakan SL. Harjanta dalam acara Screening Tresna Widya yang belangsung di Ruang Sidang Kampus Terpadu Universitas Widya Mataram, kemarin. Harjanta menambahkan, Tresna Widya merupakan sebuah karya adaptasi dari lagu dan video klip Kalih Welasku-Denny Caknan.

”Tresna Widya ini bisa menjadi referensi bagai calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Yogyakarta. Karena dalam cover video klip ini menceritakan bagaimana kehidupan mahasiswa, gambaran kondisi kampus hingga perjuangan untuk bisa sukses,” ucap dosen Prodi AP yang saligus menjadi produser dalam karya  ini.

Acara screening sendiri dihadiri Rektor Rektor UWM, Prof. Edy Suandi Hamid, Wakil Rektor III, Puji Qomariah, M.Si, Dekan Fisipol, Dr. As Martadi Noor dan sejumlah mahasiswa yang terlibat produksi. Dalam kesempatan itu, Prof. Edy memberikan apresiasi atas pemutaran cover video klip tersebut. ”Selamat dan penghargaan atas karya yang berhasil dibuat. Terus tingkatkan skill, sehingga karya berikutnya lebih baik lagi. Moga ini diikuti bidang atau unit lain di UWM,” ucapnya.

Karena jadi ajang sharing dan juga diskusi, dalam kesempatan itu, Dr. Martadani memberikan masukan terkait ketajaman konflik. Konflik dalam sebuah film maupun video klip menjadi daya tarik bagi penonton. ”Secara umum bagus dan menarik. Masukkan saya, konfliknya harus lebih tampak lagi,” tambahnya.

Di tempat sama, salah satu pemeran, Maldika Ageng menceritakan pengalamannya terlibat dalam produksi Tresna Widya. ”Bagian yang paling menarik adalah saat belajar tari dan juga membatik. Ini pengalaman baru sekaligus bisa menggambarkan jika UWM benar-benar kampus berbasis budaya,” ucap mahasiswa Prodi AP ini.

Selanjutnya Tresna Widya bisa dinikmati penonton melalui media sosial (IG, Youtube) Prodi Administrasi Publik dan juga PMB UWM. (haj)

Dosen Prodi Administrasi Publik: Jelang Pemilu, Pemuda Harus Kritis dan Cerdas

Suara pemuda dan pemilih pemula sangat menentukan dalam Pemilu 2024 mendatang. Karena memiliki pengaruh dalam pemilu, kalangan pemilih pemula diharapkan kritis dan cerdas. Sikap ini diperlukan agar Pemilu 2024 menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Baik yang duduk di eksekutif maupun legislatif.

Demikian disampaikan SL.Harjanta, Dosen Prodi Administrasi Publik Universitas Widya Mataram (UWM) di hadapan peserta sosialisasi menjadi pemilih kritis dan cerdas yang berlangsung di Kemantren Umbulharjo, belum lama ini.

Harjanta kemudian mengurai sikap kritis dan cerdas dalam Pemilu 2024. Pertama, pemilih harus tahu siapa yang dipilih, kedua mengetahui visi misi kandidat maupaun partai politik (parpol), ketiga mengetahui track record kandidat.

“Dalam hal track record ini, pemilih perlu melihat apakah kandidat memiliki rekam jejak, misalkan  pernah memperjuangkan kepentingan pemuda atau tidak. Dalam bagian ini juga bisa dilihat apakah kandidat memiliki integritas,” bebernya.

Sikap kritis dan cerdas keempat adalah datang ke TPS untuk menggunakan hak suara. Tak hanya sampai di situ, setelah menggunakan hak suara, pemilih harus mengawal atau mengawasi kinerja  kandidat yang berhasil terpilih.

Selain sikap kritis dan cerdas dalam Pemilu 2024, Harjanta juga membeberkan sejumlah problem dalam penyelenggaran pemilu. Masalah-masalah itu diantaranya problem sosial, structural hingga finansial.

Di tempat sama, Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Umbulharjo, Eddy Nofianto mengatakan, pemuda diminta untuk menggunakan hak pilihnya saat Pemilu 2024 mendatang. Dengan menggunakan hak pilihnya, maka pemuda ikut menentukan pemimpin hingga masa depan bangsa dalam 5 tahun ke depan. (haj)

Dosen Prodi AP Dorong Guru Menulis Jurnal

Kegiatan menulis karya ilmiah merupakan syarat bagi kemajuan profesi guru sekaligus wadah penuangan kemajuan diri guru. Target ini dapat tercapai manakala beberapa faktor pendukung dimiliki, seperti  motivasi kuat dari guru  memanfaatkan peluang  dalam  pengembangan ketrampilan menulis. Demikian disampaikan Dr. Oktiva Anggraini SIP, S.P.d.M.Si, Dosen Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram (UWM) sebagai pemateri  “Teknik Penulisan Karya Ilmiah pada Jurnal Bereputasi” dalam acara  In House Training (IHT) di SMA 1 Gamping Yogyakarta, pada Kamis (8/6).

Lebih lanjut menurut Oktiva, dalam proses belajar mengajar, para guru berinteraksi dengan sains dan obyek penelitian itu sendiri, yakni peserta didik. Dengan demikian, meskipun sibuk, para guru tetap dapat serius mengajar sembari melakukan penelitian kelas pada klas yang diampunya. Keuntungan menarik ini, tidak dimiliki oleh peneliti lain yang tidak memegang kelas. Dari sisi waktu, kegiatan mengajar tidak terganggu, namun proses penelitian dan penuangan hasilnya dalam bentuk jurnal, dapat dilakukan. Ditinjau dari sisi proses dan biaya, guru tidak mengeluarkan budget yang besar dan proses lebih singkat. “Dengan mengingat keuntungan tersebut, guru tidak akan merasa terbebani dengan kegiatan meneliti dan menulis jurnal karena dapat diujudkan dalam rutinitasnya, bahkan hasil riset dapat jadi evaluasi beberapa metode pengajaran yang dibandingkan, sesuai dengan bidang atau masalah yang akan diteliti. Dengan mengingat keuntungan tersebut, guru tidak akan merasa terbebani dengan kegiatan meneliti dan menulis jurnal karena dapat diujudkan dalam rutinitasnya,” tambahnya.

Di sisi lain, posisi dan peran guru yang berinteraksi dengan dunia pendidikan, menjadi bagian kebijakan pendidikan yang dinamis, dapat mendorong ide-ide kreatif guru untuk terus berupaya agar proses belajar mengajar bermutu dan menarik, melalui penelitian.  “Akan lebih bagus lagi, risetnya dilakukan berkelompok sehingga kaya ide, saling melengkapi dan terbangun budaya ilmiah di sekolah”, kata Oktiva yang juga menjabat sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UWM.

Para guru hendaknya lebih mengoptimalkan  penggunaan media dan teknologi dalam membantu dalam penyelesaian penyusunan monograf, buku ajar dan pembuatan video. “Selain untuk keperluan kenaikan pangkat, peserta didiknya juga akan bangga bila karya ilmiah gurunya menghiasi jurnal-jurnal bereputasi, dan ini menjadi poin bagi sekolah juga” tegasnya.

Mahasiswa Prodi Administrasi Publik Raih Juara 3 Lomba Karya Ilmiah Tingkat Nasional

Tim mahasiswa Prodi Administrasi Publik (AP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram (UWM) berhasil memperoleh juara 3 LKTN (Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional) yang dilaksanakan pada 27 Mei 2023. Presentasi dilakukan secara daring. Ketua Tim, Ananda Fikri Sulistyo menjelaskan, ketertarikannya mengkaji ketahanan pangan, mendorong timnya mengangkat judul Lorong Sayur sebagai Inovasi Urban Farming Menunjang Ketahanan Pangan (Studi Kasus Program Lorong Sayur di Kemantren Tegalrejo, Yogyakarta. Anggota timnya terdiri dari Nugroho Dwisatria Semesta dan Diajeng Sekar Baiti Jannata Firdaus.
Ketahanan pangan menjadi isu penting dan agenda nasional sekaligus sebagai tujuan Sustainability Development Goals (SDGs). Urban farming menjadi salah satu solusi penanganan ketahanan pangan yang digiatkan di berbagai daerah, termasuk di Kota Yogyakarta. Melalui Program Gandeng-gendong yang diprakarsai penta helix, program urban farming diterapkan di salah satu Kelurahan Kricak melalui Kelompok Tani Dewasa (KTD) “Ngremboko”. Kelompok tani tersebut membangun lorong sayur dalam mengatasi ketahanan pangan, khususnya pada masa pandemi Covid-19.
“Upaya KTD “Ngremboko” cukup gigih dalam mengedukasi anggotanya melakukan berbagai kegiatan seperti pertanian, peternakan dan perikanan. Dengan pelibatan warga dan dirancang secara tepat urban farming dapat mengentaskan permasalahan pada kerawanan pangan,” kata Ananda.
Nugroho menambahkan bahwa inovasi lorong sayur berupa pertanian kota berbasis kearifan lokal dapat menjadi simpul sosial dan memiliki banyak keunggulan bagi penerima manfaat. “Sejumlah manfaat seperti ketahanan pangan skala rumah tangga, kearifan lokal, penguatan lembaga KTD “Ngremboko”, pemanfaatan lahan tidur, pengembangan kewirausahaan warga, pembangunan lingkungan terjaga dan mengeratkan simpul sosial,” katanya.
Dr.Oktiva Anggraini, SIP, M.Si. sebagai dosen pembimbing karya ilmiah mengungkapkan bahwa persiapan tim mahasiswa AP mengikuti lomba cukup matang karena tim melakukan mini riset yang diintegrasikan dengan mata kuliah. “Keberhasilan tim Prodi AP ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa lain aktif berkompetisi dalam kegiatan-kegiatan ilmiah serupa,” harapnya.